Sabtu, 12 November 2022

Pembelajaran Berdiferensiasi, Solusi Pembelajaran efektif pada masa kini

 


Peserta didik  terlahir dengan keadaan beragam karakter dan keunikannya masing-masing. Kebutuhan belajar peserta didik  tentu saja harus bisa terlayani dengan sebaik-baiknya. Sebagai seorang guru, dalam menerapkan merdeka belajar harus bisa menjadi fasilitator murid dalam belajar, menghamba padanya sehingga potensinya dapat berkembang dengan optimal. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

a.       Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

b.      Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

c.       Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

d.      Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

e.       Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.


Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berakar pada pemenuhan kebutuhan murid baik dari segi kesiapan belajar, minat, atau profil belajarnya dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Menurut Tomlinson (2000) juga dikatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa diferensiasi tidak berarti bahwa guru harus dapat memenuhi kebutuhan semua individu setiap saat dan setiap waktu. Guru diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar sehingga sebagian besar murid menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain:

1)      Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)

2)      Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)

3)      Mengevaluasi dan erefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

 

Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten/materi. Metode ini dapat diterapkan pada berbagai  mata pelajaran.

Pembelajaran berdiferensiasi berfokus pada tiga hal utama yaitu

a)      Diferensiasi konten/materi

Jika fokus pada konten, maka peserta didik punya kebebasan untuk menentukan sumber daya alam di sekitarnya untuk diolah jadi sumber makanan. Guru akan memberikan lembar kerja (LK) berisi tabel panduan dan contoh langkah-langkah yang harus dilakukan peserta didik ketika ingin membuat makanan berdasarkan bahan-bahan yang mereka pilih.

b)      Diferensiasi proses

Guru dapat memberikan peserta didik kebebasan untuk mengolah sumber daya alam yang telah dipilihnya. Peserta didik dapat menggoreng, mengukus, merebus atau proses lain untuk mengubahnya menjadi makanan. Setelah itu peserta didik harus menulis bagaimana ia menyusun rencana, jadwal pengolahan, dan mengawasi produk yang akan dihasilkan di dalam Lembar Kerja.

c)      Diferensiasi produk

Diferensiasi produk akan tampak dari produk yang dihasilkan peserta didik. Produk ini beragam jenisnya karena bahan dan proses yang digunakan juga beragam. Guru dapat meminta orangtua atau saudara untuk menilai produk yang dibuat peserta didik. Penilaian dapat meliputi rasa, inovasi, dan bentuk.



Salah satu kunci pembelajaran differensiasi adalah mengetahui karakteristik peserta didik, langkah pertama untuk mencari tahu karakteristik masing-masing peserta didij  adalah dengan mengamati gaya belajar mereka. Misalnya ada peserta didik  yang lebih tertarik pada hal yang sifatnya visual, maka cara pemberian materi dan produk hasil belajar pun diharapkan akan dalam bentuk visual.

Cara lainnya bisa dengan melihat dan mengamati tugas-tugas yang sudah dikerjakan peserta didik. Guru dapat berdiskusi dengan guru mata pelajaran lain tentang kemampuan peserta didik tersebut ketika menerima materi pelajaran.

Selain itu, guru juga dapat membuat pertanyaan pemantik untuk mengetahui minat dan karakteristik peserta didik. Misalnya pertanyaan tentang kebiasaan belajar peserta didik, ada peserta didik yang lebih senang belajar sambil mendengarkan musik, ada yang lebih senang dalam kondisi sepi, atau mungkin dan ada yang bisa belajar sambil menonton televisi, dan masih banyak lagi.


Pembelajaran berdiferensiasi berhubungan erat  dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidikan yang sangat terkenal  menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, baik melalui kodrat alam maupun kodrat zaman,  hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi peserta didik. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga semestinya harus dibangun agar dapat mendukung penuh pembelajaran berdirensiasi. 


Pada kondisi lapangan Pembelajaran Berdiferensiasi juga terkait dengan Inquiry Apresiatif, karena keputusan menentukan strategi pembelajaran dalam Pembelajaran Berdiferensiasi  diambil dengan menaruh fokus utama kepada kepedulian terhadap kekuatan yang dimiliki peserta didik , dan menjadikannya sebagai modal untuk menentukan cara pembelajaran terbaik yang dapat memberikan kesempatan belajar yang tepat bagi setiap peserta didik. Selain itu, Pembelajaran Berdiferensiasi  juga erat kaitannya dengan mengenal nilai diri hingga penanaman budaya positif, karena dengan Pembelajaran Berdiferensiasi  tidak hanya memaksimalkan potensi murid saja, namun juga memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada setiap murid untuk mempelajari berbagai nilai-nilai yang penting dalam kehidupan, yang akan berkontribusi terhadap perkembangan mereka secara holistik. Nilai-nilai tersebut antara lain nilai tentang: indahnya perbedaan; saling menghargai; makna baru dari kesuksesan; kekuatan diri; kesempatan yang setara; kemerdekaan belajar dan berbagai nilai-nilai penting lainnya. Kemudian  dengan pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi dapat membangun kemandirian belajar, komitmen mencapai tujuan pembelajaran dan menumbuhkan kebiasaan refleksi untuk menciptakan ruang-ruang refleksi bagi Peserta didik  dan guru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar