Di masa lampau posisi Indonesia yang strategis di tengah-tengah jalur hubungan dagang Cina dengan Romawi, maka timbullah hubungan dagang antara Indonesia dan Cina beserta India. Melalui hubungan itu juga, maka berkembanglah kebudayaan-kebudayaan yang dibawa oleh para pedagang ke Indonesia. Dalam perkembangannya, hubungan perdagangan antara Indonesia dan India lambat laun Agama Hindu dan Buddha telah masuk dan tersebar di Indonesia. Di mana kemudian kedua keyakinan/agama tersebut dianut pula oleh raja-raja dan para bangsawan. Dari lingkungan raja dan bangsawan itulah Agama Hindu-Buddha tersebar ke lingkungan rakyat biasa.
1. Masuknya kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia
Berikut beberapa teori yang berbeda mengenai penyebaran Agama Hindu ke Indonesia.
a. Teori Brahmana
Teori Brahmana dikemukakan oleh Van Leur. Menurutnya, agama hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh para pendeta ( pemuka agama ). Namun, teori ini memiliki kelemahan yaitu : Pemuka agama atau pendeta di larang keluar dan meninggalkan negeri.
Peraturan ini berlaku dan di pegang teguh oleh para penganut agama Hindu di India. Dengan demikian, tidak mungkin bahwa pendeta yang menyebarkan agama Hindu di Indonesia.
b. Teori Ksatria / Teori Kolonosasi
Teori masuknya agama hindu-buddha ke indonesiaTeori Ksatria dikemukakan oleh Majumdar, Moekerji dan Nehru. Para ahli ini berpendapat bahwa agama hindu masuk ke indonesia karena dibawa oleh para prajurit India yang melakukan ekspansi ( perluasan wilayah kekuasaan kerajaan ).
Tapi, teori ini memiliki kelemahan yaitu : tidak ada tanda atau bukti peninggalan sejarah yang menunjukkan bahwa India pernah menaklukkan Indonesia.
c. Teori Waisya
Teori Waisya dikemukakan oleh Krom. Menurutnya, masuknya agama hindu di Indonesia dibawa oleh para pedagang yang melakukan perdagangan dan pelayaran ke Indonesia. Hal ini dilandasi keterangan bahwa Indonesia sudah menjadi jalur pelayaran dan perdagangan India-Cina sejak tahun 500 SM. Dalam pelayaran dan perdagangan inilah diperkirakan bahwa ara pedagang singgah di wilayah Indonesia dan menyebarkan agama Hindu kepada masyarakat Indonesia.
d. Teori Sudra
Teori Sudra dikemukakan oleh banyak orang. Dalam teori ini, dinyatakan bahwa agama hindu dibawa masuk ke indonesia oleh kaum sudra ( kaum buruh dan pekerja kasar ) yang ingin merubah nasib mereka.
e. Teori Nasional
Teori Nasional ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch. Menurutnya, perkembangan agama Hindu di Indonesia karena adanya peran aktif dari masyarakat Indonesia. Dinyatakan juga bahwa, setelah dinobatkan sebagai seorang hindu, mereka kemudian giat menyebarkan agama hindu serta segala amalannya. Teori ini juga dilandasi dengan temuan adanya unsur-unsur kebudayaan India budaya Indonesia.
f. Teori Arus Balik
Menurut teori ini, bangsa indonesia bukan hanya menerima kebudayaan, ilmu pengetahuan serta ilmu agama. Namun, bangsa Indonesia juga menjelajah dan mencari ilmu agama ke negeri lain yang kemudian menyebarkan ilmu agama dan kepercayaan yang mereka dapatkan tersebut kepara masyarakat di wilayahnya setelah mereka kembali ke tanah air atau kampung halamannya
2. Pengaruh Hindu-Buddha terhadap masyarakat di Indonesia
Setiap kebudayaan yang lebih maju pasti mendominasi kebudayaan yang berada di bawahnya. Begitu pula kebudayaan India yang dengan mudah diterima masyarakat Indonesia. Masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesia telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh masuknya hindu-buddha terhadap masyarakat Indonesia diantaranya sebagai berikut.
a. Bidang agama
Sebelum Hindu Buddha masuk ke Indonesia, kepercayaan yang dianut di Indonesia adalah animisme dan dinamisme. Tapi setelah hindu Buddha masuk ke Indonesia, kepercayaan ini tidak ditinggalkan begitu saja, tetapi telah terjadi pencampuran (akulturasi) diantara keduanya. Hal ini menyebabkan pusat-pusat perdagangan di Indonesia menjadi pusat-pusat Hindu-Buddha yang berkembang menjadi pusat kerajaan dan pusat penyebaran Hindu-Buddha ke berbagai wilayah sesuai dengan cakupan wilayah kerajaan. Dengan tersebarnya agama Hindu-Buddha, banyak masyarakat di Indonesia yang menganut agama Hindu atau Buddha. Dan dapat dilihat dari segi pemujaan dewa-dewa dan roh nenek moyang pada zaman dahulu.
b. Bidang politik/pemerintahan
hindu Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia masih terdiri atas kelompok-kelompok yang dipimpin oleh kepala suku. Tetapi setelah hindu Buddha datang ke Indonesia, kepala suku pun digantikan oleh raja yang dianggap sebagai keturunan dari dewa yang memiliki kekuatan, suci dan hampa. Raja dianggap sebagai keturunan dewa dan dianggap sebagai puncak dari segala hal dalam negara. Dengan demikian raja memiliki kekuasaan yang sangat besar dan tanpa batas. Hal ini tentunya akan memperkuat kedudukan raja untuk memerintah wilayah kerajaan secara turun-temurun.
c. Bidang sosial
Setelah hindu Buddha masuk ke Indonesia, terjadi perubahan terhadap tata kehidupan masyarakat Indonesia. Misalnya dalam masyarakat hindu diperkenalkan system kasta. Golongan brahmana (pendeta) menduduki golongan pertama. Ksatria (bangsawan, prajurit) menduduki golongan kedua. Waisya (pedagang dan petani) menduduki golongan ke tiga, sedangkan sudra (rakyat biasa) menduduki golongan terendah atau golongan ke empat. Dan dalam masyarakat Buddha diperkenalkan golongan biksu dan biksuni
d. Bidang arsitektur
Pengaruh hindu Buddha dalam bidang arsitektur dapat dilihat dari bangunan candi. Meskipun bangunan candi merupakan pengaruh dari India, namun dalam arsitektur nya terdapat perpaduan dengan arsitektur punden berundak-undak pada zaman megalitikum
e. Bidang seni rupa/lukis
Unsur seni rupa atau seni lukis India telah masuk ke Indonesia. Hal ini terbukti dengan telah ditemukannya area Buddha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga patung Buddha berlanggam Amarawati ditemu-kan di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Seni rupa India pada Candi Borobudur ada pada relief-relief ceritera Sang Buddha Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukkan suasana alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung merpati. Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut merupakan lukisan asli Indonesia, karena lukisan seperti itu tidak pernah ditemukan pada candi-candi yang ada di India.
f. Bidang bahasa
Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti besar berhuruf pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa sanskerta yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dan sebagainya.
g. Bidang sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayan dan Mahabarata dan lains ebagainya.
h. Bidang astronomi
Pengaruh astronomi disini lebih kepada system kalender. Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu dengan penggunaan tahun Saka. Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau kronogram dalam usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adalah angka huruf berupa susunan kalimat atau gambaran kata. Bila berupa gambar harus dapat diartikan ke dalam bentuk kalimat.
3. Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
Pada perkembangannya agama Hindu-Buddha menyebar ke dunia bahkan sampai ke Indonesia. Ketika sampai di wilayah nusantara ajaran agama Hindu-Buddha berakulturasi dengan kebudayaan asli Indonesia waktu itu. Selanjutnya ajaran Hindu-Buddha tersebut berkembang pesat bahkan muncul kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, Berikut berbagai kerajaan Hindu-Budha di Indonesia.
a. Kerajaan Hindu-Buddha Tertua di Indonesia
Berikut ini merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang muncul paling awal atau pertama kali di nusantara.
1) Kerajaan Kutai
Gambar: Kerajaan Kutai
Sumber: https://i2.wp.com/www.satujam.com/wp-content/uploads/2015/10/sejarah-sosial-budaya-kerajaan-kutai.jpg?resize=650%2C428
Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martadipura (Martapura) merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Diperkirakan kerajaan kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan ini dibangun oleh Kudungga. Diduga ia belum menganut agama Hindu. Peninggalan terpenting kerajaan Kutai adalah 7 Prasasti Yupa, dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta, dari abad ke-4 Masehi. Salah satu Yupa mengatakan bahwa “Maharaja Kundunga mempunyai seorang putra bernama Aswawarman yang disamakan dengan Ansuman (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga orang putra. yang paling terkemuka adalah Mulawarman.” Salah satu prasastinya juga menyebut kata Waprakeswara yaitu tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa.
2) Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegera di Jawa Barat hampir bersamaan waktunya dengan Kerajaan Kutai. Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382 – 395). Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanegara yang ketiga (395 – 434 M). Menurut Prasasti Tugu pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km).
3) Kerajaan Kaling
Letak kerajaan Kaling atau Holing, diperkirakan di JawaTengah. Nama Kaling berasal dari Kalinga, nama sebuah kerajaan di India Selatan. Sumbernya adalah berita Cina yang menyebutkan bahwa kotanya dikelilingi dengan pagar kayu, rajanya beristana di rumah yang bertingkat, yang ditutup dengan atap, Orang-orangnya sudah pandai tulis-menulis dan mengenal juga ilmu perbintangan.
b. Perkembangan Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
Kemudian pada perkembangan selajutnya bermunculan banyak kerajaan bercorak Hindu-Buddha di nusantara, diantaranya sebagai berikut.
1) Kerajaan Sriwijaya
Gambar: Peta wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya masa Balaputradewa
Salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di Indonesia sekitar abad ke-7 Masehi adalah Kerajaan Sriwijaya yang mampu berkembang sebagai negara maritim dengan menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan dari Selat Malaka, Selat Sunda, hingga Laut Jawa. Sriwijaya merupakan kerajaan yang bercorak agama Buddha. Raja yang pertamanya bernama Sri Jaya Naga, sedangkan raja yang paling terkenal adalah Raja Balaputradewa. Hal ini berdasarkan pada sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya diperoleh dari prasasti yang berasal dari dalam negeri dan prasasti dari luar negeri.
1) Prasasti yang berasal dari dalam negeri antara lain prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang Tuwo, prasasti Telaga Batu, prasasti Kota Kapur, prasasti Karang Berahi, prasasti Palas Pasemah, dan Amoghapasa.
2) Prasasti yang berasal dari luar negeri antara lain prasasti Ligor, prasasti Nalanda, prasasti Canton, prasasti Grahi, dan prasati Chaiya.
3) Sumber sejarah lain tentang Kerajaan Sriwijaya diperoleh dari seorang pendeta Tiongkok yang bernama I-tsing.
d. Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno diketahui dari prasasti Canggal yang berangka tahun 732 Masehi ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa pada mulanya Jawa (Yawadwipa) diperintah oleh Raja Sanna. Setelah ia wafat Sanjaya naik takhta sebagai penggantinya dengan gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya adalah putra Sannaha (saudara perempuan Sanna). Setelah Raja Sanjaya, Mataram Kuno diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Panangkaran. Dalam prasasti Kalasan disebutkan bahwa Sri Maharaja Rakai Panangkaran telah memberikan hadiah tanah di Kalasan serta memerintahkan membangun sebuah biara untuk para pendeta agama Buddha dan sebuah candi untuk Dewi Tara. Hal ini menunjukkan bahwa Sri Maharaja Rakai Panangkaran mendukung adanya perkembangan agama Buddha.
2) Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno
Gambar Letak wilayah kerajaan mataram Hindu
Sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilFvn2LdDKbPYywLZ4A1K7Uo-c6Eoj6vM-rFow6xPXyKUEckXRdsbenDoK0d3W2N_plD3AMckk3paOvTPjPkAzreHzbfBX5F8RurBMUoKSLwiNhiltjz_X82rhbTBo1Aw-o2HK5sOzuaI/s1600/Peta+Mataram+Kuno.jpg
Kerajaan Mataram diketahui dari Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 Masehi yang ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa pada mulanya Jawa (Yawadwipa) diperintah oleh Raja Sanna. Setelah ia wafat Sanjaya naik tahta sebagai penggantinya. Sanjaya adalah putra Sannaha (saudara perempuan Sanna).
Prasasti Mantyasih (Prasasti Kedu) yang di dikeluarkan oleh Raja Balitung pada tahun 907 memuat daftar raja-raja keturunan Sanjaya, sebagai berikut.
a) Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
b) Sri Maharaja Rakai Panangkaran
c) Sri Maharaja Rakai Panunggalan
d) Sri Maharaja Rakai Warak
e) Sri Maharaja Rakai Garung
f) Sri Maharaja Rakai Pikatan
g) Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
h) Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
i) Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung
j) Daksa
k) Rakai Layang Dyah Tulodong
l) Wawa
Wawa merupakan raja terakhir kerajaan Mataram. Pusat kerajaan kemudian dipindahkan oleh seorang mahapatihnya (Mahamantri I hino) bernama Pu Sindok ke Jawa Timur. Pindahnya mataram hindu atau mataram kuno ke jawa timur disebabkan oleh besarnya pengaruh serangan sriwijaya. selain itu karena letusan gunung merapi yang menghancurkan mataram kuno. Pu Sindok naik tahta lalu mendirikan dinasti baru, yaitu Dinasti Isana. Pu Sindok memerintah sampai dengan tahun 947. Pengganti-penggantinya dapat diketahui dari prasasti yang dikeluarkan oleh Airlangga, yaitu Prasasti Calcuta.
Berdasarkan berita Cina diperoleh keterangan bahwa Raja Dharmawangsa pada tahun 990 – 992 M melakukan serangan terhadap Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1016, Airlangga datang ke Pulau Jawa untuk meminang putri Dharmawangsa. Namun pada saat upacara pernikahan berlangsung kerajaan mendapat serangan dari Wurawuri dari Lwaram yang bekerjasama dengan Kerajaan Sriwijaya. Peristiwa ini disebut peristiwa Pralaya. Selama dalam pengassingan ia menyusun kekuatan. Setelah berhasil menaklukkan raja Wurawari pada tahun 1032 dan mengalahkan Raja Wijaya dari Wengker Pada tahun 1035 ia berhasil mengembalikan kekuasaan. Airlangga wafat pada tahun 1049 dan disemayamkan di Parthirtan Belahan, di lereng gunung Penanggungan.
3) Kerajaan Bali
Kerajaan Bali merupakan kerajaan Hindu yang dipimpin oleh Wangsa Warmadewa. Raja-raja terkenal dari wangsa Warmadewa adalah Sri Candra Bhayasingka Warmadewa, Udayana, Anak Wungsu, (1049-1077). Sedangkan raja-raja sesudah wangsa Warmadewa adalah : Sri Jayasakti, dan Jayapangus.
4) Kerajaan Kediri
Gambar: kerajaan kediri
Sumber: https://www.masternubie.com/2018/04/sejarah-lengkap-kerajaan-kediri_27.html
Raja pertama Kerajaan Kediri adalah Sri Jayawarsa dengan prasastinya yang berangka tahun 1104 M. Selanjutnya berturut-turut raja-raja yang berkuasa di Kediri adalah Kameswara (±1115 – 1130), Jayabaya (±1130 – 1160), Sarweswara (±1160 – 1170), Aryyeswara (±1170 – 1180), Gandra (1181), Srengga (1190 – 1200), dan Kertajaya (1200 – 1222). Pada masa Jayabaya kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan. Pada awal pemerintahan Sri Jayabaya, kekacauan akibat perselisihan dengan Jenggala terus berlangsung dan baru bisa dipadamkan pada tahun 1135 M. Hal ini sesuai dengan prasasti Hantang yang memuat tulisan Panjalu Jayati, artinya Panjalu menang sebagai wujud kemenangan Panjalu atas Jenggala.
Perkembangan seni pada masa Kerajaan Kediri ditandai dengan ditulisnya beberapa kitab sastra, antara lain sebagai berikut.
a) Kitab Baratayuda
Kitab Baratayuda ditulis pada masa Raja Jayabaya, untuk memberikan gambaran terjadinya perang saudara antara Panjalu melawan Jenggala. Perang saudara tersebut digambarkan dengan perang antara Kurawa dengan Pandawa yang masing-masing merupakan keturunan Barata.
b) Kitab Kresnayana
Kitab Kresnayana ditulis oleh Empu Triguna. Isinya mengenai perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.
c) Kitab Lubdaka
Kitab Lubdaka ditulis oleh Empu Tanakung pada masa Raja Kameswara. Isinya tentang seorang pemburu bernama Lubdaka. Ia sudah banyak membunuh. Pada suatu ketika ia mengadakan pemujaan yang istimewa terhadap Syiwa, sehingga rohnya yang semestinya masuk neraka menjadi masuk surga.
d) Kitab Smaradahana
Kitab Smaradahana ditulis pada masa Raja Kameswara oleh Empu Darmaja. Isinya menceritakan tentang sepasang suami istri Smara dan Rati yang menggoda Dewa Syiwa yang sedang bertapa. Smara dan Rati terkena kutukan dan mati terbakar oleh api (dahana) karena kesaktian Dewa Syiwa. Akan tetapi, kedua suami istri itu dihidupkan lagi dan menjelma sebagai Kameswara dan permaisurinya.
5) Kerajaan Singasari
Jika berbicara kerajaan singassari pastinya kita memahami mengenai perebutan tahta berdarah di kerajaan tersebut. Pertama adalah Ken Arok yang berhasil menjadi raja pertama Singasari. Setelah membunuh Tunggul Ametung Akuwu di Tumapel Ken Arok dapat mengalahkan Kertajaya Raja Kediri di pertempuran Ganter 1222. Istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes, dipersunting Ken Arok, menurut ramalan Ken Dedes akan menurunkan raja-raja besar.
Gambar: peninggalan kerajaan singasari
Sumber: https://ibnuasmara.com/kerajaan-singasari/
Setelah Ken Arok meninggal karena dibunuh Anusapati anak tirinya, maka Anusapati menggantikan sebagai raja. Tohjaya anak Ken Arok dengan Ken Umang membalas dendam dengan membunuh Anusapati. Tohjaya hanya beberapa bulan saja memerintah karena terjadi pemberontakan dan Tohjaya terbunuh. Ronggowuni dan Mahisa Campaka, sebagai raja dan patih yang memerintah di Singasari lebih kurang selama 20 tahun. Pemerintahannya stabil.
Putra Ronggowuni yang bernama Kertanegara, menggantikan ayahnya menjadi raja Singasari. Singasari mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan raja Kertanegara.Kertanegara terkenal dengan gagasannya untuk menyatukan seluruh kerajaan-kerajaan di Nusantara di bawah payung kekuasaan Singasari. Cita-cita ini dikenal sebagai Wawasan Nusantara I. Wafatnya Kertanegara mengakhiri riwayat kerajaan Singasari.
6) Kerajaan Majapahit
Setelah Kertanegara terbunuh oleh Jayakatwang, 1292. Raden Wijaya menantu Kertanegara berhasil melarikan diri ke Madura untuk minta bantuan Arya Wiraraja, bupati Sumenep. Atas nasihat Arya Wiraraja, Raden Wijaya menyerahkan diri kepada Jayakatwang. Atas jaminan dari Arya Wiraraja, Raden Wijaya diterima dan diperbolehkan membuka hutan Tarik yang terletak di dekat Sungai Brantas. Dengan bantuan orang-orang Madura, pembukaan hutan Tarik dibuka dan diberi nama Majapahit.
Kemudian datanglah pasukan Tartar yang dikirim Kaisar Kubilai Khan untuk menghukum raja Jawa. Walaupun sudah mengetahui Kertanegara sudah meninggal, tentara Tartar bersikeras mau menghukum raja Jawa.
Hal ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk membalas dendam kepada Jayakatwang. Jayakatwang berhasil dihancurkan. Pada waktu tentara Tartar hendak kembali kepelabuhan, Raden Wijaya menghancurkan tentaraTartar, Setelah berhasil mengusir tentara Tartar, Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja Majapahit dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana pada tahun 1293.
Kertarajasa meninggal pada tahun 1309. Satu-satunya putra yang dapat menggantikannya adalah Kalagamet. la dinobatkan sebagai raja Majapahit dengan gelar Sri Jayanagara. Ia bukanlah raja yang cakap. Selain itu ia juga mendapatkan banyak pengaruh dari Mahapati. Akibatnya masa pemerintahannya diwarnai dengan adanya beberapa kali pemberontakan.
Pemberontakan yang paling berbahaya adalah pemberontakan Kuti, pada tahun 1319. Kuti berhasil menduduki ibukota Majapahit, sehingga Jayanagara harus melarikan diri ke desa Bedander yang dikawal oleh pasukan Bhayangkari dipimpin oleh Gajah Mada. Pemberontakan Kuti ini berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Karena jasanya Gajah Mada diangkat sebagai Patih Kahuripan. Pada tahun 1328 Jayanagara mangkat dibunuh oleh tabib istana, Tanca. Tanca kemudian dibunuh oleh Gajah Mada. Jayanagara tidak meninggalkan keturunan.
Karena Jayanagara tidak mempunyai keturunan, maka yang berhak memerintah semestinya adalah Gayatri atau Rajapatni. Akan tetapi Gayatri telah menjadi bhiksuni. Maka pemerintahan Majapahit kemudian dipegang oleh putrinya Bhre Kahuripan dengan gelar Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani. la menikah dengan Kertawardhana. Dari perkawinan ini lahirlah Hayam Wuruk. Pada tahun 1331 terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta. Pemberontakan yang berbahaya ini dapat ditumpas oleh Gajah Mada. Karena jasanya Gajah Mada diangkat sebagai Patih Mangkubumi Majapahit. Pada saat pelantikan, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa.
Gambar: Patung Gajah Mada dan amukti palapa
Sumber: https://kendyferdian.files.wordpress.com/2015/10/prasasti-gajah-mada-malang-rev4.jpg
Pada tahun 1350 M, lbu Tribhuwanatunggadewi, Gayatri meninggal. Sehingga Tribhuwana turun tahta. Penggantinya adalah putranya yang bernama Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanagara. Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada sebagai Mahapatihnya, Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Dengan Sumpah Palapa-nya Gajah Mada berhasil menguasai seluruh kepulauan Nusantara ditambah dengan Siam, Martaban (Birma), Ligor, Annom, Campa dan Kamboja.
Pada tahun 1364, Patih Gajah Mada wafat ditempat peristirahatannya, Madakaripura, di lereng Gunung Tengger. Setelah Gajah Mada meninggal, Hayam Wuruk menemui kesulitan untuk menunjuk penggantinya. Akhirnya diputuskan bahwa pengganti Gajah Mada adalah empat orang menteri.
Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389. Ia disemayamkan di Tayung daerah Berbek, Kediri. Seharusnya yang menggantikan adalah puterinya yang bernama Kusumawardhani. Namun ia menyerahkan kekuasaannya kepada suaminya, Wikramawardhana. Sementara itu Hayam Wuruk juga mempunyai anak laki-laki dari selir yang bernama Bhre Wirabhumi yang telah mendapatkan wilayah keuasaan di Kedaton Wetan (Ujung Jawa Timur). Pada tahun 1401 hubungan Wikramawardhana dengan Wirabhumi berubah mejadi perang saudara yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Pada tahun 1406 Wirabhumi dapat dikalahkan di dibunuh. Tentu saja perang saudara ini melemahkan kekuasaan Majapahit. Sehingga banyak wilayah-wilayah kekuasaannya melepaskan diri.
c. Keruntuhan Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha
Faktor-faktor yan menyebabkan keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di nusantara masa lampau, diantaranya sebagai berikut.
1) Terdesaknya kerajaan-kerajaan sebagai akibat munculnya kerajaan yang lebih besar dan lebih kuat.
2) Tidak ada peralihan kepemimpinan atau kaderisasi seperti yang terjadi pada zaman majapahit.
3) Berlangsungnya perang saudara yang justru melemahkan kekuasaan kerajaan, seperti yang terjadi pada kerajaan syailendra dan Majapahit
4) Banyak daerah yang melepaskan diri akibat lemahnya pengawasan pemerintah pusat dan raja-raja bawahanmembangun sebuah kerajaan yang merdeka serta tidak terikat lagi oleh pemerintah pusat.
5) Kemunduran ekonomi perdagangan. Akibat kelemahan pemerintah pusat, masalah perekonomian dan perdagangan diambil ailh oleh para pedagang melayu dan Islam
5) Tersiarnya agama dan budaya islam yang mudah diterima para adipati di daerah
pesisir. Hal ini membeuat mereka merasa tidak terikat lagi dengan pemerintahan kerajaan pusat seperti pada masa kekuasaan kerajaan majapahit
d. Peninggalan-Peninggalan Masa Hindu-Buddha
Peninggalan-peninggalan sejarah dari kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia dapat dilihat dari banyak ditemukan candi, karya sastra, patung, seni ukir, dan lain sebagainya.
1. Candi
Gambar: Candi-candi peninggalan masa Hindu-Buddha
Kata “Candi” bersal dari kata candikagerha yang berarti rumah candika. Sedangkan candika sendiri merupakan nama lain dari dewi Durga atau dewi kematian/maut. Karena itu dalam tradisi Hindu candi dibangun untuk memuliakan orang-orang yang sudah mati dari kalangan keluarga kerajaan dan orang-orang terkemuka. Sedangkan dalam tradisi Buddha, candi digunakan sebagai tempat untuk memuja sang Buddha.
Candi di Indonesia dikelompokan menjadi tiga jenis, yatu sebagai berikut.
a) Jenis candi yang bercorak Hindu di Jawa Tengah Bagian Utara.
Corak candi Jawa Tengah bagian utara mengambarkan susunan masyarakat demokratis. Kedemokratisan ini terlihat dari tak ada candi yang mencolok melebihi candi lainnya. Candi-candi bercorak Jawa Tengah bagian utara antara lain:
1) Candi Gunung Wukir di dekat kota Magelang yang berhubungan Prasasti Canggal tahun 732 Masehi.
2) Candi Badut dekat kota Malang yang berhubungan dengan prasasti Dinoyo tahun 766 Masehi.
3) Kelompok Candi Gedongsongo tereletak di sekitar lereng Gunung Unggaran.
4) Kelompok Candi Dieng yang terdiri dari Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Gatotkoco, Candi Semar.
5) Kelompok Candi Lorojongrang di desa Prambanan.
b) Jenis Candi yang bercorak Budha di Jawa Tengah bagian Selatan
Candi-candi Jawa Tengah bagian selatan menggambarkan susunan masyarakat yang feodalistik dengan raja sebagai pusat dunia. Candi-candi yang ukurannya lebih kecil mengitari candi utama yang lebih besar. Candi-candi tersebut adalah:
1) Candi Borobudur, terletak di Magelang, Jawa Tengah.
2) Candi Kalasan, terletak di Yogyakarta
3) Candi Sari, berdekatan dengan candi Kalasan
4) Candi Mendut, berada di Magelang
5) Kelompok Candi Pelaosan
6) Kelompok Candi Sewu di Desa Prambanan.
c) Jenis candi yang bercorak Hindu-Budha di Jawa Timur, Bali, dan Sumatera.
1) Kelompok candi Panataran di Blitar.
2) Candi Kidal di Malang
3) Candi Singhosari di Kota Malang
4) Kelompok Candi Muara Takus di Bangkinang
5) Kelompok candi Gunung Tua di Padang.
6) Candi Bentar di Pulau Bali.
2. Patung
Patung adalah benda yang dibuat dari batu dan dibentuk menyerupai manusia atau binatang. Patung yang disimpan di dalam candi merupakan sebuah perlambangan bersatunya raja dengan dewa.
Patung-patung dewa dalam agama Hindu yang merupakan peninggalan sejarah di Indonesia antara lain sebagai berikut.
a) Arca Batu Brahma
b) Arca Perunggu Siwa Mahadewa
c) Arca Batu Wisnu
d) Arca-arca di Prambanan, salah satunya Lorojonggrang
e) Arca Ganesha, dewa berkepala gajah sebagai dewa ilmu pengetahuan
Gambar: Salah satu arca peninggalan masa Hindu-Buddha yaitu Ganesha
3. Karya Sastra
Pengaruh Hindu Buddha dari India ke Indonesia berhasil membawa kemajuan yang pesat, terutama dalam seni sastra. Isi dari karya sastra peninggalan hindu buddha di Indonesia ini mayoritas tidak menggunakan kalimat langsung dalam penyajiannya, melainkan di isi dengan kumpulan puisi dan sajak-sajak indah dalam sejumlah bait (pupuh). Ungkapan yang biasa ada dalam karya sastra ini, biasa disebut dengan kakawin. Tema kitab yang diambil pun berasal dari gubahan atau karya baru yang juga sudah disesuaikan dengan tradisi dan budaya yang ada di masyarakat kita. Penting dengan adanya karya sastra ini, kita dapat mengambil catatan, kisah dan laporan peristwia-peristiwa penting dalam sejarah. Kesusastraan bercorak Hindu-Buddha dapat dikelompokan ke dalam bagian-bagian berikut ini.
a) Kesusastraan zaman Mataram sekitar abad ke 9 dan 10, seperti
1) Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa.
Menceritakan sang Arjuna ketika ia bertapa di gunung Mahameru. Lalu ia diuji oleh para Dewa, dengan dikirim tujuh bidadari. Bidadari ini diperintahkan untuk menggodanya. Nama bidadari yang terkenal adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka Batara Indra datang sendiri menyamar menjadi seorang brahmana tua. Mereka berdiskusi soal agama dan Indra menyatakan jati dirinya dan pergi. Lalu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi pada saat yang bersamaan ada seorang pemburu tua yang datang dan juga memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Setelah itu Arjuna diberi tugas untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil dalam tugasnya dan diberi anugerah boleh mengawini tujuh bidadari ini.
2) Sang Hyang Kamahayanikan.
Sanghyang Kamahayanikan mengajarkan bagaimana seseorang mencapai Kebuddhaan, yaitu seorang siswa pertama-tama harus melaksanakan Catur Paramita (Empat Paramita), kemudian dijelaskan Paramaguhya dan Mahaguhya. Selain itu, dijelaskan juga falsafah Adwaya yang mengatasi dualisme "ada" dan "tidak ada". Dalam kitab itu terdapat uraian yang sangat rinci bagaimana seorang yogi penganut Tantrayana menyiapkan diri di jalan spiritual, mulai fase pembaiatan hingga pelaksanaan peribadatan yang bertingkat-tingkat. Di situ disebutkan bahwa ajaran Tantrayana adalah laku meditasi terhadap Panca Tathagata. Dengan memuja mereka, seorang yogi dapat mencapai kesucian pikiran.
b) Kesusastraan zaman Kediri sekitar abad ke 11 dan 12, seperti
1) Hariwangsa dan Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh yang berisi tentang kisah perkawinan Kresna dengan Dewi Rukmini.
2) Smaradahana karya Mpu Dhamaja.
3) Lubdaka dan Wentasancaya karya Mpu Tanakung
4) Kresnayana karya Mpu Triguna, yang berisi tentang riwayat kehidupan Kresna yang pada masa kecilnya dikenal sebagai seorang anak nakal, namun disayangi banyak orang sebab suka menolong. Selain itu, Kresna juga mempunyai kesaktian yang luar biasa, dan setelah dewasa ia dikawini dengan Dewi Rukmini.
5) Sumanasantaka karya Mpu Monaguna yang berisi tentang bidadari Harini yang terkena kutukan dan menjelma sebagai seorang putri di bumi. Setelah masa hukumannya habis, ia kembali ke kahyangan.
c) Kesusastraan zaman Majapahit sekitar abad ke 13 dan 14, seperti
1) Negarakertagama karya Mpu Prapanca, yang berisi tentang keadaan kerajaan Majapahit, daerah-daerah jajahan dan perjalanan pemerintahan Hayam Wuruk dalam memimpin daerah-daerah kekuasaannya. Selain itu, di dalam kitab ini juga disebutkan tentang upacara Sradda untuk Gayatri, mengenai kehidupan keagamaan zaman Majapahit. Kitab Negara Kertagama ini lebih rinci menjelaskan tentang sejarah budaya, daripada sejarah politik.
2) Sutasoma karya Mpu Tantular, yang berisi tentang anak raja yang menjadi pendeta Buddha. Anak raja ini rela mengorbankan dirinya untuk kesejahteraan semua mahluk. Oleh sebab itu, banyak orang yang tertolong olehnya. Di dalam kitab juga terdapat ungkupan yang berbunyi : “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrawa” yang saat ini dipakai sebagai lambang NKRI.
3) Pararaton, yang berisi tentang anak raja yang menjadi pendeta Buddha. Anak raja ini rela mengorbankan dirinya untuk kesejahteraan semua mahluk. Oleh sebab itu, banyak orang yang tertolong olehnya. Di dalam kitab juga terdapat ungkupan yang berbunyi : “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrawa” yang saat ini dipakai sebagai lambang NKRI.
4) Kitab Sudayana yang berisi tentang peristiwa bubat, yaitu rencana perkawinan yang akhirnya berubah menjadi pertempuran antara Pajajaran dan Majapahit di bawah pimpinan Patih Gajah Mada. Di dalam pertempuran bubat ini, raja Sunda dengan pembesarnya terbunuh, dan Dyan Pitaloka membunuh dirinya sendiri.
d) Zaman Kediri
Pada zaman kerajaan kediri, karya sastra juga berkembang pesat. Diantaranya adalah :
1) Kakawin Bharatayudha karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, yang berisi tentang kemenangan Janggala atas Panjulu saat masa pemerintahan Raja Jayabaya.
2) Kitab Kresnayana karya Empu Triguna, yang berisi tentang riwayat kehidupan Kresna yang pada masa kecilnya dikenal sebagai seorang anak nakal, namun disayangi banyak orang sebab suka menolong. Selain itu, Kresna juga mempunyai kesaktian yang luar biasa, dan setelah dewasa ia dikawini dengan Dewi Rukmini.
3) Kitab Sumarasantaka karya Empu Monaguna, yang berisi tentang bidadari Harini yang terkena kutukan dan menjelma sebagai seorang putri di bumi. Setelah masa hukumannya habis, ia kembali ke kahyangan.
4) Kitab Hariwangsa dan Gatot Kacas Raya karya Empu Panuluh, yang berisi tentang kisah perkawinan Kresna dengan Dewi Rukmini.
5) Kitab Smaradhana karya Empu Dharmaja.
6) Kitab Lubdaka dan Kitab Wirtasancaya karya Empu Tan Akung.
4. Upacara Keagamaan
Bentuk peninggalan jenis ini misalnya Ngaben dan Kasodo. Ngaben merupakan upacara pembakaran jenazah pada masyarakat Hindu di Bali. Kasodo yaitu upacara yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Tengger, Jawa Timur. Kasodo merupakan upacara mempersembahkan sesaji ke kawah Gunung Bromo.
Gambar: Upacara Kasodo
Sumber: https://utiket.com/images/uploads/weblog/upacara_adat_kasada_bromo-small.jpg
5. Bahasa dan Tulisan
Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha di Indonesia telah banyak meninggalkan bukti sejara tentang eksistensi mereka di Negara ini. Salah satu peninggalannya adalah bahasa dan tulisan yang digunakan dalam prasasti maupun karya sastra. Peninggalan dalam bentuk tulisan ini dapat dilihat dari prasasti yang menggunakan huruf pallawa dan berbahasa sansakerta. Bahkan ada beberapa bahasa sansakerta yang kemudian digunakan dalam bahasa Indonesia.
Gambar: Huruf Pallawa sebagai bukti peninggalan Hindu-Budha
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Pallawa
6. Relief
Relief merupakan seni pahat pada dinding suatu bangunan atau candi. Relief melukiskan suatu cerita, misalnya cerita Ramayana yang dipahat pada dinding Candi Prambanan.
Gambar: Relief pada candi Prambanan
Sumber: http://indonesiakuhebatt.blogspot.com/2011/10/candi-prambanan.html
7. Kitab
Kitab merupakan karangan berupa kisah, catatan, laporan tentang suatu peristiwa atau sejarah. Isi kitab tidak berupa kalimat langsung melainkan rangkaian puisi indah dalam sejumlah bait. Ungkapan dalam bentuk puisi ini biasa disebut kakawin. Kitab-kitab peninggalan masa Hindu-Buddha antara lain Kakawin Bharatayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca, dan Kakawin Sutasoma karya Empu Prapanca.
8. Gapura
Gapura merupakan bangunan berupa pintu gerbang. Gapura ada yang beratap (Paduraksa) dan berdaun pintu dan ada yang menyerupai candi terbelah dua (Bentar). Bangunan gapura di antaranya Gapura Wringin Lawang di Trowulan peninggalan Kerajaan Majapahit.
Gambar: Gapura kerajaan Majapahit
Sumber: https://www.pinterpandai.com/sejarah-kerajaan-majapahit/












Gambarnya bahus2
BalasHapusMohon bimbingannya dalam menulis...
HapusBagus2
BalasHapusMateri nya sangat lengkap ,mudah di fahami ,mudah dipelajari dan membuat saya lebih tahu tentang zaman dahulu
BalasHapus