Proses penyebaran agama
Islam di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara, yakni melalui perdagangan,
perkawinan, politik, pendidikan ,kesenian, tasawuf sehingga mendukung meluasnya
ajaran Islam. Di Pulau Jawa, proses Islamisasi memiliki satu kekhasan.
Islamisasi di Jawa dilakukan oleh sekelompok mubalig Islam yang dikenal dengan
sebutan walisongo. Selanjutnya untuk menambah pemahaman Anda tentang kerajaan
Islam yang berkembang di Indonesia dari awal berdirinya, letak geografis dan
perkembangannya dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya dapat Anda
simak pada uraian materi berikut ini.
1. Masuknya Islam ke Indonesia
Sepeninggal nabi
Muhammad SAW tepatnya pada 632 M silam, kepemimpinan agama Islam tidak berhenti
begitu saja. Kepemimpinan Islam diteruskan oleh para khalifah dan disebarkan ke
seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Hebatnya baru sampai abad ke 8 Islam
telah menyebar hingga ke seluruh afrika, timur tengah, dan benua eropa. Baru
pada dinasti Ummayah perkembangan islam masuk ke nusantara.
Zaman dahulu Indonesia
dikenal sebagai daerah terkenal akan hasil rempah-rempahnya, sehingga banyak
sekali para pedagand dan saudagar dari seluruh dunia datang ke kepulauan
Indonesia untuk berdagang. Hal tersebut juga menarik pedagang asal Arab,
Gujarat, dan juga Persia. Sambil berdagang para pedagang muslim sembari
berdakwak untuk mengenalkan ajaran Islam kepada para penduduk.
Menurut para sejarawan,
pada abad ke-13 Masehi islam sudah masuk ke nusantara yang dibawa oleh para
pedagan muslim. Namun untuk lebih pastinya para ahli masih terdapat perbedaan
pendapat dari para sejarawan. Namun setidaknya 3 tiga teori tentang masuknya
Islam ke Indonesia
a. Teori
Gujarat
Teori ini dipelopori
oleh ahli sejarah Snouck Hurgronje, menurutnya agama Islam masuk ke Indonesia
dibawa oleh para pedagang Gujarat pada abad ke-13 masehi.
b. Teori
Persia
P.A Husein Hidayat
mempelopori teori ini, menyatakan bahwa agama Islam dibawa oleh pedagang Persia
(Iran), hal ini berdasarkan kesamaan antara kebudayaan islam di Indonesia
dengan Persia.
c. Teori
Mekkah
Teori ini menyatakan
bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dibawa para pedagah Mekkah, teori ini
berlandaskan sebuah berita dari China yang menyatakan jika pada abad ke-7 sudah
terdapat perkampungan muslim di pantai barat Sumatera
d. Teori
Cina
Teori Cina mengatakan
bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari
para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia
jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Teori Cina ini bila dilihat dari
beberapa sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat).
2. Persebaran Islam di
Indonesia
Masuknya islam di
Indonesia berlangsung secara damai dan menyesuaikan dengan adat serta istiadat
penduduk lokal. Ajaran islam yang tidak mengenal perbedaan kasta membuat ajaran
ini sangat diterima penduduk lokal. Proses masuknya islam dilakukan melalui
cara berikut ini.
a. Perdagangan
Letak Indonesia yang
sangat strategis di jalur perdagangan di masa itu membuat Indonesia banyak
disinggahi para pedagang dunia termasuk pedagang muslim. Banyak dari mereka
yang akhirnya tinggal dan membangun perkampungan muslim, tak jarang mereka juga
sering mendatangkan para ulama dari negeri asal mereka untuk berdakwah. Hal
inilah yang diduga memiliki peran penting dalam penyebaran ajaran Islam di
nusantara.
Gambar: Masuknya Islam di Indonesia
melalui perdagangan
Sumber: https://belapendidikan.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia/
b. Perkawinan
Penduduk lokal
beranggapan bahwa para pedagang muslim ini adalah kalangan yang terpandang,
sehingga banyak penguasa pribumi yang menikahkan anak mereka dengan para
pedagang muslim. Sebagai sayarat sang gadis harus memeluk islam terlebih
dahilu, hal inilah yang diduga memperlancar penyebaran ajaran islam.
c. Pendidikan
Setelah perkampungan
islam terbentuk, mereka mulai mendirikan fasilitas pendidikan berupa pondok
pesantren yang dipimpin langsung oleh guru agama dan para ulama. Para lulusan
pesantren akan pulang ke kampung halaman dan menyebarkan ajaran islam di daerah
masing-masing.
d. Kesenian
Wayang merupakan warisan
budaya yang masih terjagan hingga saat ini, dalam penyebaran ajaran islam
wayang memiliki perang yang sangat konkrit. Contohnya sunan kalijaga yang
merupakan salah satu tokoh islam menggunakan pementasan wayang untuk berdakwah.
e. Melalui
dakwah
Penyebaran
Islam di Nusantara, terutama di Jawa, sangat berkaitan dengan pengaruh para
wali yang kita kenal dengan sebutan wali sanga. Mereka inilah yang berperan
paling besar dalam penyebaran agama Islam melalui metode dakwah. Walisongo atau
Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14.
Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu
Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah,
dan Cirebon di Jawa Barat.
Gambar: Walisanga
Sumber: http://www.suaraislam.co/maulana-habib-luthfi-bin-yahya-siroh-singkat-wali-sanga/
3. Pengaruh Islam terhadap
Masyarakat di Indonesia
Masuknya pengaruh Islam ke Indonesia telah
membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di Indonesia.
Perubahan-perubahan tersebut, antara lain tampak dalam bidang-bidang berikut.
a. Bidang
Agama
Sebagian
besar masyarakat di Indonesia menganut agama Islam. Meskipun demikian, masih
terdapat masyarakat yang menganut agama Hindu, Buddha, atau menganut
kepercayaan terhadap roh halus.
b. Bidang
Politik
Di
Indonesia sudah berkembang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha sebelum masuknya
Islam. Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha mulai mengalami kemunduran dan digantikan
peranannya oleh kerajaan-kerajaan Islam. Pada masa Islam, konsep kerajaan
berubah menjadi kesultanan. Dalam sistem kesultanan nilai-nilai Islam menjadi
dasar dalam pengendalian kekuasaan.
c. Bidang
Sosial
Pada
masa Hindu-Buddha terjadi pembedaan yang tegas antarkelompok masyarakat,
golongan Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra yang disebut dengan sistem kasta.
Dengan masuknya Islam, maka sistem kasta menjadi pudar. Namun begitu, pada masa
Islam masih terdapat penggolongan kelompok masyarakat, misalnya seorang ulama
diberi gelar kiai, sebuah gelar yang menunjukkan ketinggian derajat pada
struktur sosial di masyarakat Jawa atau para penyebar agama Islam yang diberi
gelar Sunan.
d. Bidang
Kebudayaan
Kebudayaan
Islam mengakomodasi kebudayaan yang sudah ada, tentunya dengan modifikasi dan
penyesuaian agar tetap sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga dengan
berkembangnya kebudayaan Islam di Indonesia tidak serta merta menggantikan atau
memusnahkan kebudayaan yang sudah ada. Hal tersebut menimbulkan terjadinya
akulturasi antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan yang sudah ada.
4. Kerajaan-Kerajaan Islam
di Indonesia
Agama Islam berkembang
dengan pesat di tanah air. Hal ini dapat dilihat dengan berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam. Berikut ini beberapa contoh kerajaan Islam yang pernah
berdiri di Indonesia.
a. Kerajaan
Bercorak Islam di Daerah Selat Malaka
Kerajaan
bercorak Islam muncul pertama kali di daerah selat malaka yang pada saat itu
merupakan kawasan perdagangan ramai di masa lampau. Kerajaan-kerajaan Islam di
selat malaka diantaranya sebagai berikut.
1) Kerajan
Perlak
Gambar: Kerajaan Perlak
Sumber:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUprdmSBZ4fMNeaM0p2UCwCfkm_H6m9Cxg_Y64Y2_2hwAwa06YXFuwJrp7BWkr0lj1j8rcsfaU2g6e2dAv3FVu0doeTiEuK_37QFfkCagjGBqAQz-zgI_j-V6g9TaGp7j_0A9iKSoires/s1600/peninggalan-Kesultanan-perlak.jpg
Kerajaan Islam yang pertama
kali berdiri di Sumatra dan tanah air adalah Kerajaan Perlak (Peureula).
Kerajaan Perlak ini berdiri pada pertengahan abad IX dengan raja pertamanya
bernama Alauddin Syah. Perlak pada saat itu merupakan kota dagang penyedia lada
paling terkenal. Pada akhir abad XII Kerajaan Perlak akhirnya mengalami
kemunduran.
2) Kerajaan
Samudera Pasai
Kerajaan Samudra Pasai
ini terletak di pesisir timur laut Aceh Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara
kini. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan awal atau pertengahan
abad ke-13 M, pendiri dan raja
pertama kerajaan ini adalah Malik
al-Saleh, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah pantai yang pernah
disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8 M, dan seterusnya.
Daerah yang diperkirakan masyarakatnya sudah banyak yang memeluk agama Islam
adalah Perlak, sepeti yang kita ketahui berita dari Marco Polo yang singgah di
daerah itu pada tahun 1292.
Bukti berdirinya kerajaan Samudra
Pasai pada abad ke-13 M, itu didukung dengan adanya nisan yang terbuat dari
granit asal Samudra Pasai. Dari nisan itu dapat diketahui bahwa raja pertama
itu meninggal pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan
dengan tahun 1297 M. Nisan kuburan itu didapatkan di Gampong Samudera bekas
kerajaan Samudera Pasai tersebut. Keberadaan kerajaan ini dibuktikan dengan
sumber sejarah berupa penemuan batu nisan bertuliskan Sultan Malik as-Saleh
dengan angka tahun 1297 yang juga merupakan raja pertama. Menurut sumber
sejarah, kerajaan ini pernah didatangi seorang utusan dari Sultan Delhi di
India bernama Ibnu Batutah.
3) Kerajaan
Malaka
Pendiri
Malaka adalah Pangeran Parameswara, berasal dari Sriwijaya. Ketika di Sriwijaya
terjadi perebutan kekuasaan pada abad ke-14 M. Di Malaka ia membangun pemukiman
baru yang dibantu oleh orang orang Palembang. Bahkan Parameswara bekerja sama
dengan kaum bajak laut atau perompak. ia menjalin hubungan dengan Kaisar Ming
dari Cina. Kaisar Ming inilah yang mengirimkan balatentara di bawah pimpinan
Laksamana Cheng-Ho pada tahun 1409 dan 1414. Malaka pun mengambil alih peranan
Sriwijaya dalam hal perdagangan di sekitar Selat Malaka. Selat Malaka pada
waktu itu merupakan Jalur Sutera perdagangan yang dilalui oleh para pedagang
dari Arab, Persia, India, Cina, Filipina, dan Indonesia. Setelah itu,
Parameswara bergelar Muhammad Iskandar Syah.
Kejayaan
malaka langsung sirna sejak pasukan portugis menyerang malaka pada tahun 1511.
portugis yang dipimpin langsung oleh alfonso de albuquerque.portugis segera
membangun benteng pertahanan salah satu benteng peninggalan portugis yang masih
tersisa hingga kini adalah Benteng Alfamosa. seabad kemudian, portugis hengkang
dari malaka karena serangan pasukan VOC dari belanda.orang belanda pun tak lama
berkuasa atas malaka karena kemudian inggris mengambil alih kekuasaan atas
malaka.
4) Kerajaan
Aceh
Gambar: Kerajaan Aceh
Sumber: https://4antum.wordpress.com/2009/12/02/kerajaan-aceh-darussalam/
Kerajaan Aceh berdiri
pada tahun 1514. Sultan Ibrahim atau Ali Mugayat Syah adalah raja pertama
kerajaan ini. Kerajaan Samudra Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. Pada
tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama
tiga tahun, kemudian tahun 1524 M dianekasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsyah.
Selanjutnya kerajaan Samudera Pasai di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang
berpusat di Bandar Aceh Darussalam.
Kerajaan Aceh terletak di
daerah yang sekarng dikenal dengan nama Kabupaten Aceh Besar. Di sini pula
terletak ibu kotanya. Dan belum diketahui pasti kapan kerajaan ini berdiri.
Anas Machmud berpendapat, kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M, di atas
puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Mujaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang
membangun kota Aceh Darussalm. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh terjadi pada masa
pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada saat itu wilayah kekuasaan Aceh sangat
luas. Kerajaan Aceh juga telah menjalin hubungan dengan para pemimpin Islam di
kawasan Arab sehingga dikenal dengan sebutan Serambi Mekah. Puncak hubungan
tersebut terjadi pada masa kekhalifahan Usmaniyah.
b. Kerajaan
Bercorak Islam di Pulau Jawa
Semakin
lama perkembangan Islam meluas ke wilayah lain dari selat malaka, yang menebar
sampai ke tanah Jawa. Berikut ini kerajan yang bermunculan di pulau Jawa.
1) Kerajaan
Demak
Perkembangan Islam di
Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi Raja Majapahit. Hal itu
memberi peluang kepada pengusaha-pengusaha islam di pesisir untuk membangun
pusat kekuasaan yang independen. Dibawah pimpinan Sunan Ampel Denta, wali songo
bersepakat mengangkat Raaden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak,
kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurahman
Panembahan Palembang Sayidina Panatagama. Sebelumnya Demak yang masih bernama
Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada
Radeen Patah.
Maka berdiri kerajaan
Islam pertama di Pulau Jawa yaitu Kerajaan Demak. Kerajaan ini didirikan oleh
Raden Patah pada tahun 1478. Pada saat itu ulama memegang peranan yang penting
dalam pemerintahan misalnya dengan diangkatnya Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa
sebagai penasihat kerajaan. Kerajaan Demak mengalami masa keemasan pada masa
pemerintahan Sultan Trenggono. Pada tahun 1527 ketika armada Portugis datang
untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa, Kerajaan Demak berhasil memukul
mundur. Pada masa kekuasaan dipegang oleh Jaka Tingkir, pusat pemerintahannya
dipindah dari Demak menuju Pajang.
Gambar: kerajaan demak
Sumber: http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/kerajaan-demak.html
2) Kerajaan
Pajang
Pajang adalah pelanjut
atau sebagai pewaris kerajaan Demak. Sultan pertama kerajaan ini adalah Jaka Tingkir
yang berasal dari Pengging, di Lereng Gunung Merapi. Oleh raja Demak ketiga
Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa di Pajang, setelah
dikawinkan dengan anak perempuannya. Setelah Raja Demak meniggal dunia Jaka
Tingkir memerintahkan agar semua benda pusaka Demak dipindahkan ke Pajang.
Setelah menjadi raja yang paling berpengaruh di Pulau Jawa ia bergelar Sultan
Adiwijaya. Sultan Adiwijaya menghadiakan kota gede Yogyakarta dan mengangkat Ki
Ageng Pemanahan menjadi adipati di situ. Saat Ki Ageng Pemanahan meninggal,
jabatan adipati digantikan oleh anaknya, Sutawijaya. Sementara itu adipati
Demak diserahkan kepada Pangeran Aria Pangiri. Sutawijaya yang menjadi adipati
di Mataram (Yogyakarta) ingin menjadi raja dan berkuasa atas seluruh pulau
Jawa. Sebagai raja, Jaka Tingkir mendapat gelar Sultan Adiwijaya. Setelah
Sultan Adiwijaya wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh Arya Pangiri. Selanjutnya, dipimpin oleh
Pangeran Benowo.
Gambar: Kerajaan Pasang
Sumber: http://mujtahid269.blogspot.com/2013/07/kerajaan-pajang.html
3) Kerajaan
Mataram Islam
Gambar: Letak kerajaan Mataram Islam
Pada
tahun 1586 berdiri kerajaan Islam Mataram. Pendiri kerajaan ini bernama
Sutowijoyo yang bergelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Pantagama. Letak
kerajaan ini berada di Kotagede, Sebelah tenggara kota Yogyakarta. Ketika
memerintah dikerajaan Mataram, banyak bupati yang ingin melepaskan diri dari
kekuasaannya. Diantara para bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaannya
adalah bupati Ponogorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan, Surabaya, Cirebon dan
Galuh. Namun upaya mereka untuk melepaskan diri tidak behasil karena Sutowijoyo
dikenal memiliki keahlian di bidang kemiliteran berhasil mengatasi semua
pemberontakan tersebut.
Kemudian
pada tahun 1601 Sutowijoyo wafat. Ia dimakamkan di kotagede. Meskipun demikian
ia dinilai telah berhasil meletakan dasar-dasar yang kokoh bagi kerajaan
Mataram. Selanjutnya setelah Sutowijoyo wafat, kerajaan Mataram diperintah oleh
Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak. Pada awal pemerintahan terjadi
lagi pemberontakan-pemberontakan yang masing-masing dilakukan oleh Demak dan
Ponorogo. Tetapi Mas Jolang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut.
Pemberontakan terhadapnya tampaknya belum berakhir. Pada tahun 1612 Surabaya
melakukan perlawanan. Mas Jolang kemudian mengirimkan tentaranya berusaha
menumpas pemberontakan. Sementara upaya memadamkan pemberontakan terus
berlangsung dan belum berhasil dipadamkan, Mas Jolang wafat. Ia dimakamkan di
Kotagede.
Pengganti
Mas Jolang bernama Adipati Martapura. Tetapi penggantinya ini tidak mampu
menjalankan tugas pemerintahan karena keadaan fisik yang lemah serta
sakit-sakitan. Selanjutnya untuk meneruskan pemerintahan Adipati Martapura
diganti oleh Mas Rangsang. Ia ternyata orang kuat yang mampu memimpin
pemerintahan. Pada masa pemerintahannya kerajaan Islam Mataram mencapai
kemajuan yang pesat di bidang petanian, agama dan kebudayaan, Mataram ketika
itu merupakan kerajaan terhormat dan disegani tidak hanya di pulau Jawa, tetapi
juga di pulau-pulau lainnya. Karya sastra berupa buku berjudul Sastra Gending
merupakan hasil karya yang ditulis oleh Mas Rangsang sendiri. Wayang sebagai
kesenian yang digemari rakyat berkembang pesat pula.Pada masa pemerintahan Mas
Rangsang ditetapkan perhitungan tahun Islam didasarkan bulan. Oleh sebab itu
Mas Rangsang sebagai raja yang lebih terkenal dengan sebutan Sultan Agung.
4) Kerajaan
Cirebon
Gambar: Kerajaan cirebon
Sumber: https://www.pusakapusaka.com/bukti-kejayaan-kesultanan-cirebon.html
Kesultanan Cirebon
merupakan kerajaan Islam pertama di daerah Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan
oleh Sunan Gunung Jati. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1448 M dan wafat pada
tahun 1568 M, dalam usia 120 tahun. Kedudukannya sebagai Wali Songo mendapatkan
penghormatan dari raja-raja di Jawa, seperti Demak dan Pajang. Setelah Cirebon
resmi berdiri sebuah Kerajaan Islam yang merdeka dari kekuasaan Kerajaan
Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkan Kerajaan Pajajaran yang belum
menganut ajaran Islam.
Dari
Cirebon Sunan Gunung Jati, mengembnagkan ajaran Islam kedaerah-daerah lain
seperti Majalengka, Kuningan, Galuh, Sunda Kelapa dan Banten. Pada tahun 1525
M, ia kembali ke Cirebon dan menyerahkan Bnten kepada anaknya yang bernama
Sultan Hasanuddin. Sultan inilah yang meruntuhkan raja-raja Banten.
Setelah Sunan Gunung
Jati wafat, ia digantikan oleh cicitnya yang bergelar Pangeran Ratu atau
Panembahan Ratu. Panembahan wafat pada tahun 1650 M dan digantikan oleh
putranya yang bernama Panembahan Girilaya. Sepeninggalannya, Kesultanan Cirebon
dipecah menjadi dua pada tahun 1697 dan dipentahkan oleh dua orang putranya,
yaitu Martawijaya atau Panembahan Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom.
Penembahan Sepuh memimpin Kesultanan Kasepuhan yang bergelar Syamsuddin,
semeentara Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman yang bergelar Badruddin.
5) Kerajaan
Banten
Sunda Kelapa adalah
pelabuhan yang pentig di Muara Sungai Ciliwung. Kedudukannya lebih penting dari
pada dua kota pelabuhan Pajajaran lainnya, yakni Banten dan Cirebon. Setelah
Fatahillah yang juga menantu Sunan Gunung Jati berhasil menaklukkan Portugis di
Sunda Kelapa, Banten dikembangkan sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat
penyiaran agama. Setelah Sunan Gunung Jati menaklukan Banten pada tahun 1525 M.
Ia menyerahkan kekuasaan kepada putranya yang bernama Sultan Hasanuddin. Sultan
Hasanuddin kemudian menikah dengan Putri Demak dan diresmikam menjadi
Panembahan Bnten pda tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha ayahnya dalam meluaskan
daerah Islam, yaitu Kelampung dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1527 M, ia
berhasil menaklukan Sunda Kelapa. Banten juga berhasil merdeka dan melepaskan
diri dari Kerajaan Demak. Kerajaan Banten ini mengalami kemajuan yang sangat
penting pada masa kekuasaan Ki Ageng Tirtayasa.
c. Kerajaan
Bercorak Islam di Indonesia Bagian Timur
Islam
kemudian menyebar pula ke Indonesia bagian timur yaitu sampai di kawasan
Sulawesi, Kalimantan dan Sekitarnya. Kemudian bermunculan kerajaan bercorak
Islam berikut ini.
1) Kerajaan
Makasar Gowa-Tallo
Kerajaan Gowa-Tallo,
kerajaan yang kembar yang saling berbatasan, biasanya disebut kerajaan Makasar.
Kerajaan ini terletak di Semenanjung Barat Daya Pulau Sulawesi. Gowa-Tallo adalah
kerajaan yang berpusat pemerintahan di Makasar (sekarang Ujung Padang), yaitu
di Simbaopu (Makasar). Selain itu pula terdapat kerajaan lain seperti Bone,
Sopeng, Wajo dan Luwu. Kerajaan Makasar merupakan kerajaan yang pertama di
Sulawesi. Sementara itu Bone, Waajo, dan Soppeng bersatu yang disebut Tellum
Pottjo (Tiga Kerajaan). Penguasa Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1605 masuk
agama Islam. Raja Tallo yaitu Kraeng Matoaya sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa
(Makasar), ia bergelar Sultan Abdullah. Sedangkan penguasa Gowa yaitu Daeng
Manrabia sebagai raja Gowa bergelar Sultan Alaudin (1605-1639). Mereka berdua
giat menyebarkan agama Islam. Mereka berdua berusaha memperluas daerah
kekuasaannya. Pada awalnya mereka mengajak Raja Bone, Sopeng dan Wajo untuk memeluk
agama Islam. Karena ditolak maka ketiga kerajaan tersebut diperanginya dan
akhirnya masuk Islam.
Sultan Alauudin, sangat menentang
tindakan Belanda secara terang-terangan. Ia meninggal pada tahun 1639, dan
digantikan oleh anaknya yang bernama Sultan Muhammad Said. Ia mengirimkan
armada laut ke Maluku untuk melawan Belanda. Ia meninggal pada tahun 1653.
Perlawanan Makasar terhadap Belanda memuncak pada masa pemerintahan Sultan
Hasanuddin (1653-1669). Hasanuddin merupakan Raja Makasar yang paling berani
melawan Belanda, sehingga mendapat julukan
“Ayam Jantan dari Timur”. Ia sering melakukan penyerangan terhadap
kapal-kapal Belanda, yang sangat
merugikan VOC (Belanda).
2) Kerajaan
Ternate
Gambar: Kerajaan Ternate
Sumber: https://yunantohanifhidayah.wordpress.com/2012/10/07/kerajaan-ternate-tidore/
Kerajaan
Ternate berdiri pada abad ke-13 di Maluku Utara, dengan ibu kotanya di Sampalu.
Rajanya bernama Sultan Zaenal Abidin, ia belajar agama Islam di Gegesik.
Kerajaan Ternate merupakan penghasil rempah-rempah yang besar di Nusantara.
Pada abad ke-15, kerajaan ternate menjadi kerajaan terpenting di Maluku.
Kerajaan Ternate mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Baabullah.
Pada waktu itu wilayah kekuasaan Ternate sampai ke Philipina Selatan. Untuk
menjaga wilayah keamanannya, ia memiliki 100 kapal kora-kora untuk menjaga
wilayahnya. Pada masa itu Sultan Baabullah mendapat gelar seabagai “Yang Dipertuan
di 72 pulau”. Ia juga dikenal sebagai pahlawan yang gigih menentang penjajahan
Portugis. Dengan kegigiannya ia bersama rakyatnya nerhasil mengusir Portugis
dari Maluku pada tahun 1795.
3) Kerajaan
Tidore
Gambar: Kerajaan Tidore
Sumber: http://www.berbagaireviews.com/2015/03/kerajaan-kerajaan-islam-di-indonesia.html
Seperti halnya Kerajaan Ternate, Kerajaan
Tidore pun merupakan penghasil cengkeh yang besar. Berkat hasil cengkehnya itu
kerajaan Tidore menjadi kerajaan yang maju. Raja yang terkenal di Kerajaan
Tidore adalah Sultan Nuku. Pada masanya, kekuasan Tidore meliputi Halmahera,
Seram, Kai, dan Irian Jaya. Pada mulanya kerajaan Ternate dengan Kerajaan
Tidore hidup damai berdampingan. Namun sejak kedatangan Portugis , kedua
kerajaan ini di adudombakan[25], setelah mengetahui bahwa Portugis ingin
menguasai Maluku, akhirnya dua kerajaan ini bersatu dan mengusir Bangsa
Portugis dari Maluku.
4) Kerajaan
Banjar
Gambar: Kerajaan Banjar
Sumber: http://hikayatbanjar.blogspot.com/
Pada abad ke-16, di
pedaleman Kalimantan terdapat Kerajaan Nagaradaha (Kerajaan Daha). Banjarmasin
merupakan slah satu wilayah kekuasaan kerajaan tersebut. Kerajaan Banjar
merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang beragama Hindu yang dipimpin oleh
Raja Sukarama. Adipai Banjarmasi yang bernama Raden Samudera berhasil
menaklukan kerajaan Nagaradaha dengan bantuan Kerajaan Demak. Akhirnya
berdirilah Kerajaan Banjar dengan Raden Samudera sebagai rajanya. Setelah masuk
Islam ia bergelar Sultan Suryanullah. Islam pertama kali masuk ke Banjarmasin
pada abad XVI. Saat itu proses islamisasinya sebagian besar dilakukan oleh
Kerajaan Demak. Dalam waktu yang tidak cukup lama, bahkan Islam banyak dianut
masyarakat dari suku Bugis di sungai bagian timur Kalimantan. Ulama yang sangat
terkenal di kerajaan tersebut adalah Syeh Muhammad Arsyad al-Banjari.
5. Peninggalan Sejarah Masa
Islam di Indonesia
Perlu diketahui bahwa,
dalam proses integrasi budaya tersebut, tidak terjadi ketegangan yang berarti
meskipun ada 3 unsur agama dan kebudayaan yang saling berbeda di dalamnya. Hal
ini disebabkan karena tokoh-tokoh Islam pada masa itu tidak bersikap memusuhi,
dan justru bersifat saling merangkul. Adapun dalam proses integrasi tersebut,
beberapa peninggalan sejarah dapat kita lihat sebagai buktinya hingga kini. Apa
saja peninggalan sejarah Islam di Indonesia tersebut? Simak uraiannya berikut
ini!
a. Masjid
Salah satu peninggalan
sejarah Islam di Indonesia yang paling banyak ditemukan hingga kini adalah
masjid. Seperti diketahui bahwa masjid merupakan tempat ibadah bagi umat Islam,
sehingga wajar jika seni arsitektur Islam satu inilah yang paling mudah kita
lihat keberadaannya saat ini.
Gambar: Masjid menara kudus
merupakan akulturasi Hindu-Buddha
Sumber:
http://duniamasjid.islamic-center.or.id/wp-content/uploads/2012/03/menara-kudus04.jpg
Adapun terkait dengan
kentalnya budaya Hindu dan Budha di masa awal penyebaran Islam di Indonesia,
seni arsitektur masjid juga dipengaruhi oleh akulturasi budaya lokal yang ada
saat itu. Berbeda dengan masjid-masjid di Jazirah Arab, arsitektur masjid di
Indonesia memiliki beberapa keunikan. Keunikan tersebut terletak pada susunan
atapnya yang berundak dan berbentuk limas, adanya bangunan serambi (pendopo),
adanya mihrab atau tempat imam memimpin sholat, serta wujud masjid yang umumnya
berbentuk bujur sangkar.
Pada tabel berikut,
terdapat beberapa contoh masjid peninggalan sejarah Islam di Indonesia pada
masa silam.
|
No |
Nama |
Lokasi |
Peninggalan |
|
1. |
Masjid Agung Demak |
Demak, Jateng |
Abad 14 M |
|
2. |
Masjid Ternate |
Ternate, Ambon |
Abad 14 M |
|
3. |
Masjid Sunan Ampel |
Surabaya, Jawa Timur |
Abad 15 M |
|
4. |
Masjid Raya Baiturahman Banda
Aceh |
Banda Aceh, DI Aceh |
Abad 15 M |
|
5. |
Masjid Kudus |
Kudus, Jateng |
Abad 15 M |
|
6. |
Masjid Banten |
Banten, Banten |
Abad 15 M |
|
7. |
Masjid Cirebon |
Cirebon, Jawa Barat |
Abad 15 M |
|
8. |
Masjid Katangga |
Katangga, Sulawesi Utara |
Abad 16 M |
b. Kaligrafi
Peninggalan sejarah
Islam di Indonesia yang masih dapat kita jumpai hingga kini adalah seni
kaligrafi. Bagi Anda yang belum tahu, kaligrafi adalah suatu seni menulis huruf
Arab dengan gaya dan susunan yang indah. Tulisan Arabnya sendiri umumnya
diambil dari potongan surat atau ayat-ayat dalam Al Quran.
Seni kaligrafi yang
menjadi peninggalan sejarah Islam di Indonesia pada masa silam dapat kita
temukan sebagai hiasan ukir atau tulis misalnya pada dinding masjid, gapura,
atau pada batu nisan. Contoh beberapa seni kaligrafi pada batu nisan misalnya
terdapat pada makam beberapa orang berikut ini.
|
No |
Makam dari |
Lokasi |
Peninggalan |
|
1. |
Fatima binti Maimun |
Gresik, Jawa Timur |
Abad 13 M |
|
2. |
Ratu Nahrasiyah |
Samudra Pasai |
Abad 14 M |
|
3. |
Maulana Malik Ibrahim |
Gresik, Jawa Timur |
Abad 15 M |
|
4. |
Sunan Giri |
Gresik, Jawa Timur |
Abad 15 M |
|
5. |
Sunan Gunung Jati |
Cirebon, Jawa Barat |
Abad 15 M |
|
6. |
Sunan Kudus dan Sunan Muria |
Kudus, Jawa Tengah |
Abad 15 M |
|
7. |
Sunan Kalijaga |
Demak, Jawa Tengah |
Abad 15 M |
|
8. |
Makam raja-raja Banten |
Imogiri |
Abad 16 M |
c. Keraton
atau Istana
Keraton atau istana yang
merupakan tempat tinggal bagi raja dan keluarganya sebetulnya telah ada sejak
jaman pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha. Hanya saja, setelah Islam masuk,
arsitektur keraton menjadi lebih banyak dipengaruhi oleh gaya arsitektur Timur
Tengah. Beberapa keraton tersebut yang
hingga kini masih terawat misalnya Istana Kesultanan Ternate, Istana Kesultanan
Tidore, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kesultanan Aceh, Istana
Sorusuan, Istana Raja Gowa Keraton Kasultanan, dan Keraton Pakualaman.
d. Kitab
dan Kesusastraan
Peninggalan sejarah
Islam di Indonesia bukan hanya dapat ditemukan dalam bentuk seni dan gaya
arsitektur. Kesusatraan juga berkembang cukup pesat setelah masuknya pengaruh
agama Islam di Indonesia. Kesusastraan tersebut tertuang dalam bentuk suluk,
hikayat, babad, dan syair. Beberapa peninggalan kesusastraan Islam di Indonesia
antara lain syair Perahu karya Hamzah Fansuri, syair Si Burung Pingai, syair
Abdul Muluk, syair gurindam dua belas karya Ali Haji, hikayat nabi-nabi,
hikayat sultan-sultan Aceh, dan hikayat penjelasan penciptaan langit dan bumi.
e. Pesantren
Sejak masuknya Islam di
Indonesia, pesantren telah menjadi lembaga pendidikan agama yang telah
melahirkan banyak mubaligh. Pesantren dianggap sebagai salah satu peninggalan
sejarah Islam di Indonesia karena dianggap turut berperan serta dalam kemajuan
syiar Islam Nusantara.
Pesantren di Indonesia pertama kali dibangun
pada masa kekuasaan Prabu Kertawijaya dari Majapahit. Pesantren yang didirikan
di daerah Jawa oleh Sunan Ampel ini kemudian melahirkan banyak orang-orang
terpelajar. Para santri diajari tentang banyak hal seperti bahasa Arab,
pendalaman Al Quran, kitab Kuning, tauhid, fiqih, akhlak, dan tasawuf.
Beberapa pesantren besar
yang ada di Indonesia antara lain Pesantren Lasem di Rembang, Pesantren
Tebuireng di Jombang, Pesantren Asembagus di Situbondo, Pesantren Lirboyo di
Kediri, Al-Kautsar Medan, dan Pesantren As-Shiddiqiyyah di Jakarta.
f. Tradisi
Beberapa tradisi yang
hingga kini masih digunakan sebagian masyarakat Islam seperti ziarah, sedekah,
atau upacara adat Jawa sekaten juga merupakan bukti peninggalan sejarah Islam
di Indonesia yang tak bisa dilupakan begitu saja. Tradisi-tradisi tersebut
lahir karena pengaruh Islam yang berakulturasi dengan kebudayaan lokal
masyarakat saat itu.
Gambar: Tradisi sekaten
Sumber: https://bayujogja.files.wordpress.com/2012/03/sekaten-dsc_0111.jpg
g. Seni
Tari dan Musik
Dalam bidang seni tari
dan musik, pengaruh budaya Islam dari dulu hingga kini begitu terasa dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pengaruh Islam di Indonesia
kemudian melahirkan kesenian seperti Zapin, Seudati, dan Debus.













Tidak ada komentar:
Posting Komentar